KKN, tepatnya satu tahun yang lalu. Tuhan mempertemukan kami dengan cara yang indah. Tahun 2016 di bulan juli kalau tidak salah, aku dip...

Rasa Yang Tak Lagi Sama

KKN, tepatnya satu tahun yang lalu. Tuhan mempertemukan kami dengan cara yang indah.

Tahun 2016 di bulan juli kalau tidak salah, aku dipertemukan dengan sembilan makhluk ini dalam mata kuliah kampus, tepatnya kuliah kerja nyata atau yang biasa disebut dengan KKN. Kesan awal ku saat bertemu dengan sembilan makhluk ini sungguh biasa-biasa saja, nothing special. 

Sepertinya tidak enak kalau aku terus-terusan menuliskan 'sembilan makhluk' untuk panggilan mereka di dalam tulisan ini. Baiklah, mereka adalah Pero, Rani, Ridwan, Rian, Merry, Esha, Yayo, Dewi dan Lynah. Tak kenal maka tak sayang, begitu kata orang kebanyakan.


Awal pertemuan, kami memang tak banyak bicara karena memang belum kenal satu sama lain. Jangankan ingin banyak bicara, saling menatap pun kami takut, lebay banget ya. Tapi seiring berjalannya waktu rasa malu dan takut itu pun mulai terkikis bahkan hilang, tak ada lagi malu diantara kami.

Bahkan kami juga sempat saling curhat satu sama lain, bukan berdua atau bertiga tetapi langsung bersepuluh. Yang diceritakan bukanlah masalah umum, tetapi benar-benar masalah yang sangat pribadi. Tak cuma curhat masalah pribadi, kami juga sudah terbiasa saling memaki tetapi tidak ada rasa sakit hati yang singgah di dalam hati kami.

Lihatlah betapa dekatnya kami saat itu, ah jadi kangen.

Akhirnya selesai sudah masa mengabdi kami di kampung orang, kurang lebih empat puluh hari kami bersama, saatnya untuk pulang dan kembali melakukan aktifitas kami masing-masing. Tapi apalah daya kami belum bisa move on dari rutinitas saat bersama.

Bakar ikan dan karaoke merupakan media penghubung kami saat itu. Tentu saja kami menceritakan kembali kenangan indah semasa mengabdi dengan penuh canda dan tawa saat berkumpul. Tapi sayangnya kami tak bisa tinggal bersama lagi selama empat puluh hari seperti saat ini, sangat singkat pertemuan kami.

Tetap saja tiap pertemuan yang kami lakukan adalah candu buat ku.

Tapi candu itu tak lagi bisa aku nikmati seperti dulu, ketika aku tahu satu dari sembilan makhluk itu harus mendahului kami menemui yang maha kuasa.

Peronika, kau meninggalkan kami dengan cara yang sangat pilu. Kau dipaksa terseret arus sungai yang deras dikala hujan lebat dan banjir hebat kala itu. Aku tahu kau pasti sudah mencoba untuk bertahan untuk tetap hidup, tapi sayang derasnya banjir tak bisa kau kalahkan.

Satu hal yang sangat ku ingat ketika masih bersama mu adalah cara makan mu. Kau sangat suka makan, melebihi kami bersembilan. Setiap makanan sudah siap, kau adalah orang pertama yang mengambil makanan dengan porsi banyak, ya wajar saja kalau badan mu segemuk itu kawan, haha.

Peronika, nama yang akan selalu membekas di hati ini. Meski di dunia ini diri mu sudah tiada, tapi engkau tak perlu risau, percayalah diri mu masih hidup di dalam hati ini. Semenjak engkau pergi, kami tak pernah lagi berkumpul seperti saat dulu. Bukan karena tak bisa, tapi karena aku tak mau. Rasanya tak adil ketika kami bisa tertawa kembali tapi tanpa kehadiran mu disitu.

Kami bersembilan benar-benar merindukan sosok mu. Semoga suatu saat nanti kita bisa berkumpul kembali, membahas semuanya mulai dari A sampai dengan Z.

Rasa yang tak lagi sama.

0 komentar: